Minggu, 13 Mei 2012

masyarakat desa dan kota


Karakteristik Penduduk Perkotaan
            Menurut Dickinson, kota adalah suatu pemukiman yang bangunan rumahnya rapat dan penduduknya bermata pencaharian bukan agraris. Seperti yang kita ketahui, sebagian besar orang dari pedesaan pindah ke kota. Karena masyarakat di perkotaan memiliki banyak akses lebih baik dari di desa. Dengan banyaknya akses di perkotaan maka masyarakat di perkotaan mengalami dampak globalisasi yang lebih besar dari masyarakat di desa. Dampak globalisasi bagi kehidupan masyarakat perkotaan sangat konkrit dalam aspek sosial seperti tatanan sosial masyarakat, perubahan psikologis, dan hubungan dalam keluarga. Sehingga diperoleh ciri-ciri kota dari berbagai aspek, sebagai berikut:
  1. Ciri-ciri kota dari aspek sosial :
-          Adanya keanekaragaman penduduk
-          Sikap penduduk bersifat individualis
-          Norma agama tidak ketat
-          Pandangan hidup kota lebih rasional
  1. Ciri-ciri kota dari aspek fisik :
-          Adanya sarana ekonomi
-          Adanya gedung pemerintahan
-          Adanya sarana rekreasi
-          Adanya kompleks perumahan


2.2    Jumlah dan Ukuran Rumah Tangga
            Dari globalisasi dapat diketahui perubahan ukuran rumah tangga erat kaitannya dengan pola fertilitas dan mortalitas masyarakat. Sebagaimana diketahui, tingkat fertilitas di Indonesia telah menurun dengan sangat drastis sejak dicanangkannya gerakan keluarga berencana. Jika pada tahun 1971 seorang wanita kawin dalam masa produksinya rata-rata memiliki anak 5,60 maka pada tahun 1991 angka ini turun menjadi 3,22. Demikian juga angka kematian di Indonesia telah mengalami penurunan yang sangat dratis dalam 30 tahun terakhir. Angka kematian kasar di Indonesia telah diturunkan dari 20 per 1000 pendudukan pada tahun 1970 menjadi 8 per 1000 penduduk pada tahun 1995. Sedangkan angka kematian bayi berhasilnya diturunkan dari 142 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1971 menjadi 70 per 1000 kelahiran hidup menjelang tahun 1990.
            Tingkat kematian khususnya kematian bayi antara daerah perkotaan dan pedesaan lebih memberikan kondisi sosial ekonomi di daerah perkotaan dan daerah pedesaan. Sebagaimana diketahui kematian bayi merupakan ukuran yang sensitif untuk menilai perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Hal ini jelas oleh karena pola kematian bayi sangat terkait dengan ketersediaan fasilitas kesehatan, pola kesehatan yang ada dalam masyarakat tingkat pendidikan, kesehatan lingkungan dan lain sebagainya.
            Adanya perbedaan pola transisi fertilitas dan mortalitas antara daerah perkotaan daerah perkotaan dan daerah pedesaan berdampak pada adanya perbedaan besarnya rumah tangga antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan. Walaupun analisis mengenai jumlah dan ukuran rumah rangga antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan belum tersedia, namun melihat adanya perbedaan pola fertilitas dan mortalitas antara kedua daerah tersebut, dapat disimpulkan bahwa ukuran rumah tangga di daerah perkotaan cenderung lebih kecil daripada ukuran rumah tangga di pedesan. Di samping itu, jumlah anak dalam rumah tangga untuk daerah perkotaan akan lebih sedikit daripada di daerah pedesaan. Sebaliknya jumlah rumah tangga di daerah perkotaan cenderung lebih besar daripada rumah tangga di daerah pedesaan.

            Adapun implikasi yang dapat ditarik dari karakteristik rumah tangga yaitu :
1)      rumah tangga di daerah perkotaan lebih memiliki kesempatan untuk melakukan investasi terhadap peningkatan kualitas keluarga dibandingkan dengan rumah tangga di daerah pedesaan.
2)      Dengan makin mengecilnya ukuran rumah tangga dan jumlah anak rumah tangga, maka wanita di daerah perkotaan mempunyai kesempatan yang lebih tinggi untuk bekerja di luar rumah dan itu berarti pendapatan rumah tangga akan meningkat.
3)      Meningkatanya jumlah rumah tangga di daerah perkotaan membawa dampak makin sulitnya pengadaan rumah bagi keluarga.
4)      Rumah tangga di daerah perkotaan lebih ”mobile’ dibandingkan dengan rumah tangga di daerah pedesaan.

2.3    Perubahan Lapangan Pekerjaan
            Sejalan dengan perkembangan ekonomi dan pembangunan pada umumnya, lapangan pekerjaan penduduk berubah dari yang bersifat primer seperti pertanian, pertambangan, menuju lapangan pekerjaan sekunder seperti industri atau bangunan, dan akhirnya menuju lapangan pekerjaan tersier ( jasa dan informasi).
            Pekerjaan di daerah pedesaan masih terkonsentrasi pada lapangan pekerjaan primer. sebaliknya lapangan pekerjaan di daerah perkotaan sudah mulai mengalami transisi atau perubahan menuju lapangan pekerjaan sekunder maupun tersier.
            Transisi lapangan pekerjaan dari sektor primer menuju sektor sekunder dan tersier di daerah perkotaan, tergambar pula dari status pekerjaan antara pekerjaan formal dan nonformal di perkotaan. Pada tahun 1992, persentase penduduk yang bekerja di sektor formal di daerah perkotaan lebih tinggi daripada pedesaan, persentase penduduk yang bekerja di sektor non formal jauh melampaui persentase mereka yang bekerja di sektor formal.
            Gambaran lapangan pekerjaan penduduk tersebut menunjukkan adanya perubahan sektor ekonomi penduduk dari yang bersifat agragris menuju ke ekonomi yang bersifat industri. Gejala perubahan ini cepat berlangsung di daerah perkotaan dibandingkan dengan di daerah pedesaan. Perubahan perekonomian dari sektor yang bersifat agraris menuju industri atau bahkan jasa, bukan saja berdampak pada perubahan pola hubungan pekerjaan antara atasan dan bawahan, tetapi juga mengubah pola kehidupan pekerjaan di luar situasi pekerjaan.
            Dampak globalisasi terhadap pola pekerjaan penduduk semakin nampak nyata bila globalisasi perdagangan dunia sudah berjalan. Pada masa tersebut, persentase pekerja yang bekerja di sektor formal akan meningkat di tambah dengan semakin besarnya pembauran antar bangsa dalam lingkungan pekerjaan. Semuanya ini tentu membawa dampak pada perubahan struktur rumah tangga dan pola perilaku kehidupan keluarga.
            Mereka yang bekerja di sektor formal akan memiliki jam kerja yang lebih teratur dan panjang. Hal ini tentunya membawa konsekuensi pada perubahan pola kehidupan dan hubungan dalam keluarga. Berkurangnya waktu luang di dalam rumah tangga harus diimbangi dengan kehadiran pihak ketiga yaitu pembantu rumah tangga (PRT) untuk membantu mengurusi kegiatan rumah tangga sehari-hari. Hal ini tentu saja berdampak pada lebih formalnya hubungan keluarga dalam rumah tangga sebagai dampak dari kehadiran pihak ketiga tersebut.

2.4    Peningkatan Partisipasi Angkatan Kerja Wanita
            Pemanfaatan sumber daya perempuan perlu di bina melalui memberi kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk mengembangkan dirinya. Misalnya saja dengan kesempatan kerja yang sama dengan kaum pria, tidak mendiskriminasi perempuan dan lain- lainnya.
            Peranan perempuan dalam bidang ketenagakerjaan juga ditunjukkan oleh partisipasi tenaga kerja perempuan yang terus meningkat. Perempuan juga telah meningkatkan peran sertanya dalam lembaga kenegaraan dan pemerintahan, selain itu telah banyak perempuan yang telah menjadi pegawai negeri dan anggota ABRI. Realisasi dari peranan perempuan dalam pembangunan tentunya dapat kita lihat sendiri. Saat ini telah banyak perempuan yang duduk dalam jabatan penting dalam berbagai sektor pembangunan. Banyak perempuan telah membuka matanya akan kemampuannya dalam menuangkan pikiran dan tenaga yang berguna bagi pembangunan.
            Sejalan dengan transisi lapangan pekerjaan di daerah perkotaan maka pola partisipasi angkatan kerja wanita di daerah perkotaan pun mengalami perubahan. Secara umum tingkat partisipasi angkatan kerja wanita di Indonesia mengalami peningkatan dari 49 persen pada tahun 1980 menjadi 56 persen pada tahun 1990. Namun demikian gambaran partisipasi angkatan kerja wanita di daerah perkotaan dan pedesaan memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan lainnya.
            Data ini memperlihatkan bahwa proporsi pekerjaan wanita dari keseluruhan pekerja di daerah perkotaan meningkat dari 29 persen pada tahun 1980 menjadi 33 persen pada tahun 1990. peningkatan proporsi wanita pekeja ini erat kaitannya dengan naiknya partisipasi kaum wanita dalam sektor formal.
            Kaum wanita di daerah perkotaan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk masuk ke dalam pekerjaan yang bersifat formal dibandingkan dengan rekannya di daerah pedesaan. Wanita di daerah pedesaan sebaliknya terpaksa berpartisipasi dalam pasar kerja walaupun tanpa menerima upah atau gaji. Mereka terpaksa membantu suami atau keluarga lain sebagai strategi menyambung hidup keluarganya. Mereka terutama terjun membantu dalam bidang pertanian dan sektor industri rumah tangga yang pada umumnya menghasilkan barang dengan nilai jual sangat rendah.
            Perbedaan karakteristik partisipasi angkatan kerja wanita di daerah perkotaan dan pedesaan  tersebut membawa implikasi pada perbedaan sistem nilai dan pandangan hidup antara kaum wanita pada kedua daerah tersebut. Meningkatnya proporsi wanita di daerah perkotaan yang bekerja di sektor formal, memiliki implikasi pada meningkatnya kemandirian wanita dalam mengambil keputusan baik di dalam rumah tangga atau keluarga maupun di luar keluarga. Demikian pula keputusan seperti menunjukan jumlah anak, sekarang tidak lagi menjadi keputusan suami namun juga keputusan istri karena istri juga memiliki keterbatasan (constraint) terhadap waktu sebagai dampak dari bekerja di luar rumah.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar